Berita

Tafsir Surat Al-‘Alaq Ayat 17-19: Ibadah: Jalan Keselamatan, Kesuksesan, dan Kemenangan

Al-Musthofa Publication Tafsir Surat Al-'Alaq Ayat 17-19: Ibadah: Jalan Keselamatan, Kesuksesan, dan Kemenangan

Berikut ini adalah teks, sababun nuzul, terjemahan dan kutipan sejumlah tafsir ulama atas surat Al-‘Alaq Ayat 17-19:

 فَلْيَدْعُ نَادِيَهٗۙ (17) سَنَدْعُ الزَّبَانِيَةَۙ (18) كَلَّاۗ لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ ۩ (19)
 

(17) Falyad‘u nādiyah. (18) Sanad‘uz-zabāniyah. (19) Kallā, lā tuṭi‘hu wasjud waqtarib.
 

Artinya, “(17) Biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya). (18) Kelak Kami akan memanggil (Malaikat) Zabaniah (penyiksa orang-orang yang berdosa). (19) Sekali-kali tidak! Janganlah patuh kepadanya, (tetapi) sujud dan mendekatlah (kepada Allah)”.

Sababun Nuzul surat Al-‘Alaq Ayat 17-19

Imam Jalaluddin As-Suyuti (wafat 911 H) dalam kitabnya Lubabun Nuqul menyebutkan riwayat terkait sababun nuzul ayat ini sebagai berikut:
 

وأخرج الترمذي وغيره عن ابن عباس قال كان النبي صلى الله عليه وسلم يصلي فجاء أبو جهل فقال ألم أنهك عن هذا فزجره النبي صلى الله عليه وسلم فقال أبو جهل إنك لتعلم ما بها ناد أكثر مني فأنزل الله فليدع ناديه سندع الزبانية قال الترمذي حسن صحيح
 

Artinya, “At-Tirmizi dan lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas berkata: “Saat Nabi Muhammad sedang melaksanakan shalat Abu Jahal datang, kemudian ia  berkata: “Apakah aku belum melarangmu dari ini? Nabi pun mencegah Abu Jahal.” Kemudian Abu Jahal berkata: “Engaku telah mengetahui tidak ada di lembah ini yang golonganganya melebihi golonganku”.  Kemudian Allah memurunkan ayat: “Falyad‘u nādiyah. Sanad‘uz-zabāniyah”. (Jalaluddin As-Suyuti, Lubabun Nuqul, [Bairut, Darul Kutub Ilmiyah], halaman 214).
 

Syekh Nawawi Banten (wafat 1316 H) menyebutkan dalam tafsirnya riwayat yang memceritakan saat Nabi membaca surat Al-‘Alaq baru sampai ayat: “Lanasfa‘am bin-nāṣiyah”, Abu Jahal berkata: “Aku akan memanggil kaumku untuk menahanku dari tuhanmu (menarik ubun-ubun). Kemudian Allah menurunkan ayat: “Falyad‘u nādiyah. Sanad‘uz-zabāniyah.” Kemudian saat Nabi menyebutkan “zabāniyah”, Abu Jahal kembali dengan penuh ketakutan. Ditanyakan pada Abu Jahal: “Kamu takut pada Muhammad?” “Tidak, aku tidak takut”, jawab Abu Jahal. Namun, aku melihat di samping Muhammad ada seorang pengendara kuda yang menakut-nakuti dan mengancamku dengan Zabaniyah. Aku tidak mengetahui apa Zabaniyah itu? Namun ia tunduk pada penunggang kuda tadi, maka akau takut kepadanya”, terang Abu Jahal. 

Sebuah pendapat mengatakan, ia adalah Malaikat Jibril dan Mikail, keduanya berada disamping Nabi dalam bentuk macan. Ibnu Abbas berkata: “Demi Allah, jika Abu Jahal mengundang kelompoknya, sungguh Malaikat azab akan menurunkan azab seketika itu secara terang-terangan.” (Muhammad Nawawi Al-Jawi, At-Tafsîrul Munîr li Ma’âlimit Tanzîl, [Surabaya, al-Hidayah], juz II, halaman 455).

Ragam Tafsir Surat Al-‘Alaq  Ayat 17-19

Imam al-Baghawi (wafat 510 H) menafsirkan ayat: “Falyad‘u nādiyah”, yakni kaumnya dan kerabatnya. Adapun maksudnya, maka hendaknya Abu Jahal meminta pertolongan mereka. Kemudian pada ayat berikutnya “Sanad‘uz-zabāniyah”, beliau menjelaskan, kalimat “zabāniyah” merupakan bentuk jamak dari zibniyu (زِبْنِيٌّ)  terambil dari akar kata az-Zabni (الزِّبْنِ), yang bermakna memaksa. Ibnu Abbas berkata: “Yang dikehendaki dari “zabāniyah” adalah neraka jahanam, mereka (para Malaikat zabāniyah) dinamakan dengan demikian karena mereka memaksa ahli neraka untuk masuk ke dalamnya. (Muhammad Bin al-Farra’ al-Baghawi, Tafsir Al-Baghawi, [Bairut, Dar-Ihya’ At-Thurats: 1420 H], jus V halaman 282).
 

Imam Fakhruddin Ar-Razi (wafat 606 H) menjelaskan terkait pengunaan huruf sin tanfis  dalam ayat “Sanad‘u” sebagai berikut:
 

وهذه السين ليست للشك  فإن عَسَى مِنَ اللَّهِ وَاجِبُ الْوُقُوعِ، وَخُصُوصًا عِنْدَ بِشَارَةِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَنْ يَنْتَقِمَ لَهُ مِنْ عَدُوِّهِ، وَلَعَلَّ فَائِدَةَ السِّينِ هُوَ الْمُرَادُ مِنْ قَوْلِهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ: لَأَنْصُرَنَّكَ ولو بعد حين
 

Artinya, “Sin ini bukan untuk keraguan. Sesunggubnya ‘asa (harapan) dari Allah wajib terjadinya, khususnya kabar gembira untuk Rasulullah, yakni dengan Allah membalas musuh Nabi. Boleh jadi, faidah huruf sin adalah yang dikehendaki dari sabdanya (hadits qudsi): “Sungguh aku (Allah) akan menolongmu sekalipun setelah beberapa waktu.” (Fakhruddin Ar-Razi, Tafsir Mafatihul Ghaib, [Beirut, Darul Ihya’: 1420 H], juz XXXII, halaman 226).

Syekh Wahbah (wafat 2015 M) menafsirkan ayat terakhir: “Kallā, lā tuṭi‘hu wasjud waqtarib”, yakni, jangan sekali kali wahai Muhammad! Engkau bersikap baik dan ramah pada orang zalim ini (Abu Jahal) dalam segala sesuatu, atau engkau menaati apa yang ia pinta, yakni meninggalkan shalat. Shalatlah engkau Muhammad kepada Allah tanpa memperdulikannya. Jangan pedulikan ancaman dan larangannya. Mendekatkan dirilah kepada Allah dengan ketaatan dan ibadah. Karena hal itu akan menghasilkan kekuatan, kemuliaan dan keseganan di hati musuh. Ibadah adalah benteng, pelindung, jalan keselamatan, kesuksesan dan kemenangan. Kata “kalla” dalam ayat adalah untuk mencegah Abu Jahal dari kejelekan dan kejahatan perilakunya.
 

Adapun yang dimaksud melarang Nabi untuk menaati Abu Jahal adalah memutus segala hubungan, koneksi, dan relasi dengannya. Kemudian maksud perintah bersujud adalah supaya kemurkaan orang kafir semakin meningkat, dan juga sebagai bentuk ejekan dan meremehkannya. (Wahbah bin Musthafa az-Zuhaili, At-Tafsir Munir, [Damaskus, Darul Fikr: 1418 H], juz XXX, halaman 328).

 

Ustadz Muhammad Hanif Rahman, Dosen Ma’had Aly Al-Iman Bulus dan Pengurus LBM NU Purworejo
 

Al-Musthofa Publication Tafsir Surat Al-'Alaq Ayat 17-19: Ibadah: Jalan Keselamatan, Kesuksesan, dan Kemenangan

Source link