Maahad Al Musthofa Mobile

Jakarta, NU Online

Situasi pandemi Covid-19 selain berdampak pada kesehatan fisik, bagi sebagian orang, seperti kalangan remaja ternyata mempengaruhi tingkat stres. Sherien Sekar Dwi Ananda dan Nurliana Cipta Apsari dari Program Studi Sarjana (S-1) Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Unpad, dalam penelitiannya berjudul Mengatasi Stres pada Remaja dengan Selft Talk menyebutkan contoh kasus stres yang terjadi pada remaja seperti kasus seorang remaja berusia 18 tahun asal Inggris bernama Emily Owen. Emily memutuskan untuk bunuh diri karena merasa depresi dan tertekan akibat tidak tahan terus berdiam diri saat melakukan isolasi di rumah.

 

Kasus lainnya adalah bunuh diri yang dilakukan oleh WNA asal Korea Selatan dengan menggantung dirinya di sebuah hotel yang berlokasi di Solo. Alasan dia bunuh diri yaitu karena dia merasa bahwa dia terjangkit virus Corona setelah melakukan perjalanan ke negara-negara yang terpapar virus tersebut.

 

Berkaca dari contoh kasus tersebut, tulis peneliti dalam jurnal dari penelitiannya, membenarkan bahwa pandemi ini membawa dampak yang besar dan membuat semua orang kewalahan. Tdak sedikit dari mereka yang akhirnya memilih jalan yang salah. Adanya tindakan pencegahan dan penyembuhan bagi kondisi mental, khususnya remaja sangat penting dan dibutuhkan untuk menghindari hal buruk agar tidak terjadi lagi.

 

Peneliti menyebutkan langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi stres pada remaja salah satunya dengan menerapkan teknik self talk. Teknik self talk adalah salah satu bentuk dari terapi kognitif (Cognitive Restructuring) yang akan mengutamakan pernyataan positif untuk mengubah pemikiran yang tidak masuk akal (irasional) seseorang baik secara verbal atau non verbal menjadi masuk akal (rasional).

 

Teknik ini adalah jenis dari Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) yang dikembangkan oleh Albert Ellis. Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) ini berfokus pada kepercayaan-kepercayaan irasional untuk diubah menjadi rasional agar bisa sesuai dengan fakta yang ada.

 

Dalam penelitian tersebut, peneliti berfokus pada remaja dengan alasan usia mereka sering berada pada fase mengalami kecemasan atau stres. Peneliti mengutip Hans Selye (1974, 1983), seorang pelopor penelitian tentang stres, remaja rentan mengalami stres akibat mereka menanggung beban yang semakin berat, timbul rasa frustasi, mengalami gangguan atau kejadian besar dalam hidupnya,atau bahkan karena status sosial ekonominya.

 

Peneliti juga menyebutkan, self talk sebenarnya pasti pernah dilakukan oleh semua orang (berbicara dengan diri sendiri di dalam hati atau langsung) saat sedang menghadapi suatu situasi. Berdasarkan Albert Ellis (dalam Martin & Pear, 2015), lanjut peneliti, self talk dapat dilakukan melalui berbagai tahapan. 

 

Tahap pertama merupakan proses yang akan memperlihatkan anak bertindak atau berpikir tidak logis dan irasional. Dalam tahap ini, remaja dibantu untuk bisa memahami mengapa pemikirannya menjadi irasional dan bagaimana dia bisa menjadi irasional. Remaja masih sulit untuk berpikir rasional sehingga peran dari orang terdekatnya, misalnya keluarga akan dibutuhkan. Apalagi saat masa pandemi, orang tua lebih sering berada di rumah sehingga bisa berkomunikasi lebih intens dengan sang anak.

 

Orang tua bisa memberikan perhatiannya dengan bertanya kepada sang anak mengapa dia bisa sampai berpikiran negatif atau irasional.

 

Tahapan kedua, anak akan dibantu untuk yakin bahwa segala bentuk pikiran mereka yang negatif dapat diubah dan diperbaiki menjadi pikiran yang positif. Anak akan diajarkan untuk bisa membedakan pikiran irasionalnya menggunakan pernyataan positif tersebut yang untuk menentukan tujuan rasionalnya.

 

Dalam tahap ini, remaja akan dibimbing atau diberi pengarahan oleh orang tuanya bahwa sebenarnya pikiran negatif yang ada bisa diubah menjadi positif. Misalnya, remaja tersebut mengatakan “Aku tidak akan sanggup hidup seperti ini.”

 

“Di sinilah peran orang tua untuk memberitahu bahwa sebenarnya dia bisa melewati situasi berat seperti sekarang. Contoh pernyataan positif yang harus selalu diingat adalah bahwa ‘Aku yakin bisa melewati situasi berat ini,'” tulis peneliti.

 

Tahap ketiga, anak akan dibantu untuk bisa terus mengembangkan pikiran-pikiran  rasionalnya dengan kalimat yang lebih positif sehingga mereka tidak lagi terjebak dengan pikiran negatifnya sendiri. Pada tahap terakhir, anak akan terus melatih diri untuk semakin berpikiran positif dan mengontrol pikiran irasionalnya agar tidak mengganggu kehidupannya. Dengan begitu, anak pun tidak akan lagi mengalami stress dan perubahan sikap lainnya yang akan mengganggu kehidupan sehari-harinya.

 

Peneliti menegaskan proses treatment self talk ini tidak cukup hanya dilakukan sekali saja, namun harus melewati beberapa proses yang dilakukan secara rutin dan konsisten oleh remaja tersebut walaupun tidak mudah. Dan yang terpenting, anak tersebut harus selalu mengingat dan menerapkannya setiap dia menghadapi situasi apapun. Seperti misalnya bagi remaja yang selalu mengeluh saat akan mengikuti sekolah online; mereka bisa melatih dirinya dengan teknik ini agar bisa menjalankan kewajibannya secara positif dan semangat.

 

Selain itu, yang harus dikembangkan adalah self talk positif yang bisa mengubah persepsi remaja tersebut untuk bisa mengontrol dan membuat kondisi mentalnya semakin baik. Agar para remaja bisa terus menerapkan self talk positif dalam kehidupannya, adalah tergantung dari dirinya sendiri, apakah dia memang ingin memperbaiki cara pandangnya dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik ataukah tetap tidak peduli dengan pikiran-pikiran negatif yang bermunculan di otaknya yang akan membuat kondisi mentalnya semakin tertekan.

 

Peneliti menyimpulkan adanya self talk positif dalam diri remaja akan sangat bermanfaat untuk membangun sikap kognitif pada dirinya. Teknik self talk sangat efektif untuk dilakukan oleh remaja agar dia bisa menghadapi berbagai emosi buruk yang datang, terutama di kala pandemi Covid-19 sekarang ini.

 

Selain itu, teknik self talk adalah salah satu cara yang efektif bagi para remaja yang mengalami stres untuk selalu berpikiran positif. “Diharapkan, mereka bisa mengurangi pikiran negatif terhadap dirinya sendiri ataulingkungan sekitarnya serta mampu mengendalikan emosinya,” tegas peneliti.

 

Pewarta: Kendi Setiawan

Editor: Alhafiz Kurniawan

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link