Maahad Al Musthofa Mobile

Jakarta, NU Online

Pemerintah Indonesia dan Inggris dengan tegas menyerukan agar militer Myanmar berhenti menggunakan kekerasan terhadap warga sipil yang menolak kudeta militer sejak 1 Februari 2021.

 

Seruan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi usai bertemu dengan Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab di Jakarta pada Rabu.


“Kami berbagi kepedulian yang sama dan terus menyerukan agar militer Myanmar menghentikan penggunaan kekerasan untuk mencegah jatuhnya korban sipil lebih lanjut,” kata Menteri Retno dalam salah satu pernyataan tertulisnya dilansir kemlu.go.id.


Keduanya juga meminta adanya suasana yang kondusif untuk berdialog agar demokrasi, perdamaian, dan stabilitas kembali ke jalurnya.


Menteri Retno menyampaikan bagaimana komunitas internasional, termasuk Inggris dapat mendukung upaya ASEAN untuk membantu Myanmar menyelesaikan permasalahan tersebut.


Kelompok masyarakat sipil pengawas tahanan politik di Myanmar menyampaikan warga yang tewas dalam demonstrasi menentang kudeta militer sudah mencapai 581 orang sejak 1 Februari lalu.


Dalam laporannya, pada Rabu dini hari, Asosiasi Pendamping untuk Tahanan Politik (AAPP) menyampaikan tambahan 11 orang tewas pada Selasa menyusul kekerasan yang terjadi di Myanmar.


Anak-anak jadi korban


Reuters melaporkan lebih dari 40 anak-anak di Myanmar tewas dibunuh oleh militer. Pada 1 April 2021, Save The Children, organisasi pemerhati anak mencatat sedikitnya 43 anak telah dibunuh oleh militer Myanmar dalam dua bulan sejak kudeta 1 Februari.


Jumlah kematian anak-anak meningkat lebih dari dua kali lipta sejak 12 hari terakhir atau 21 Maret 2021. 


Pewarta: Fathoni Ahmad

Editor: Muchlishon

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link