Berita

Terobosan Nasruddin Latif Percepat Arus Informasi Madrasah Lewat Web Abdima

Al-Musthofa Publication Terobosan Nasruddin Latif Percepat Arus Informasi Madrasah Lewat Web Abdima

Nasruddin Latif (42) mempunyai kegelisahan terkait dengan lambatnya birokrasi informasi di madrasah. Untuk mendapatkan kalender pendidikan, misalnya, ia butuh waktu hampir sebulan. Padahal, itu merupakan senjata utama bagi para guru di tiap tahun ajaran baru untuk merancang program madrasah.

Jika kalender Pendidikan tersebut tidak segera sampai ke madrasah, tentu menjadi persoalan tersendiri. Oleh karena itu, ia mengaku prihatin saat awal bertugas di MI Madrasah Ibtidaiyah (MI) Raudlatus Syubban Desa Wegil, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

“Biasanya, kalender pendidikan itu dari Kanwil Kemenag Jawa Tengah. Turun ke Kemenag kabupaten/kota, baru ke pengawas kecamatan. Kemudian diteruskan ke kelompok kerja madrasah. Terakhir para kepala madrasah diundang. Nah, baru masuk ke madrasah. Dulu begitu,” ungkapnya.

Latif mengatakan, karena panjangnya birokrasi yang musti melewati beberapa pintu, belum lagi jika ada keterlambatan di salah satu pintu, bisa jadi sebulan kemudian pihaknya baru mempunyai kalender pendidikan. 

“Padahal Juli sudah mulai kegiatan. Itu salah satu contoh. Belum lagi informasi yang lain, umpamanya tentang peraturan. Kami kan perlu tahu juga agar selalu update,” ujarnya kepada NU Online beberapa waktu lalu.

Ia menyadari, letak geografis madrasahnya memang jauh sekali dari kota kecamatan. Selain karena akses, juga banyak faktor lain. Tak heran jika informasi sering kali terlambat.

Untuk menuju ke lokasi madrasahnya, terbilang jauh. Dari Alun-Alun Kota Pati sekitar 35 kilometer. Sementara dari Pasar Sukolilo, sekira 9 kilometer ke arah barat sampai jalan di bawah. “Kalau ke atasnya sampai sini sekitar 1 kilometer. Jadi, 10 kilo juga. Untungnya sekarang jalan agak mulus,” ungkapnya.

Latif mengaku saat kali pertama bertugas di MI Wegil pada 2006 infrastruktur jalan lebih parah lagi. Ia menghabiskan sekira 40 menit perjalanan naik kendaraan roda dua dari kampung halamannya di Desa Kunir, Kecamatan Dempet, Kabupaten Demak setiap harinya.

Karena kondisi memprihatinkan itulah, Latif pun tak menyerah. Ia lalu mencoba mencari alternatif informasi lain, yakni media daring. Lebih kurang dua tahun, ia berlangganan informasi melalui surat elektronik dari salah satu blog yang kerap berbagai informasi soal pendidikan. Blog tersebut dikelola oleh seorang Guru SD.

Dari blog tersebut, Latif senantiasa mendapat informasi tentang pendidikan yang ia butuhkan. Meski demikian, ia masih merasa kurang lantaran blog tersebut dikelola seorang guru SD. Sudah tentu, proporsi informasi yang diberikan lebih banyak yang dibutuhkan para guru SD. Sementara dirinya adalah guru MI.

Sebagai guru MI, ia tidak hanya butuh informasi terkait pendidikan secara umum. Namun juga yang khusus berhubungan dengan madrasah. “Kalau ada pendataan yang online kadang saya kerjakan di rumah. Karena di sekolah tentu nggak mungkin. Sebab sinyal internet susah sekali di sini,” ungkapnya.

Berangkat dari kondisi tersebut, Latif meyakini sebagian besar rekan guru madrasah bernasib seperti dirinya. Yakni, butuh informasi up to date tentang pendidikan. Untuk menunjang tugas-tugas sebagai guru madrasah, info terkini pendidikan merupakan hal penting. Lalu ia pun membuat akun Facebook. Harapannya dapat berbagi informasi kepada para guru.

“Saya bahkan sampai membuat fanspage Facebook. Saya beri nama Mutiara Pendidikan hingga beberapa waktu. Melalui fanspage ini saya berbagi info dan tautan tentang pendidikan,” ungkap sarjana jebolan Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas) ini.

Seiring waktu, Latif merasa berbagi informasi melalui Facebook kurang efektif. Pasalnya, sulit mencari arsip-arsip informasi yang pernah di-posting. Selain itu, ia berpikir lebih baik jika dirinya tidak hanya berbagi tautan web atau blog orang lain melainkan dapat berbagi tautan dari web/blog miliknya sendiri.

Mulailah ia belajar membuat blog secara otodidak dengan mengandalkan informasi dari hasil pencarian di google. Membuat blog ternyata tidak sesulit yang ia bayangkan. Hanya bermodal gmail dan petunjuk cara membuat blog dari hasil pencarian google, ia pun punya blog.

Makin hari, Latif kian keranjingan blogging sehingga dalam sepekan ia betah hingga dua jam di warnet sepulang mengajar. Ia lalu belajar mengganti template blog, posting artikel, memasang wedget, dan lain sebagainya.

“Sampai di sini saya masih belum berani untuk share. Karena ini baru blog percobaan. Ada empat blog saya buat hanya untuk latihan. Setelah kemampuan dasar blog sudah lumayan terkuasai, maka mulailah saya buat blog yang siap dipublikasikan,” tuturnya.

Setelah blog-nya jadi, lagi-lagi Latif diliputi kegalauan. Ia mulai sadar bahwa menentukan nama blog ternyata lebih sulit ketimbang membuat blog itu sendiri. Awalnya karena ia sudah memiliki facebook Mutiara Pendidikan, ia ingin menggunakan nama tersebut.

Tetapi sebagai guru madrasah, ia ingin memperlihatkan kemadrasahannya. Lalu, muncul ide nama blog Guru Madrasah. “Ternyata sudah ada. Blog Guru Madrasah Ibtidaiyah juga sudah ada meski blog-blog tersebut jarang posting,” ungkap Latif.

Website Abdima

Di tengah kegalauan tersebut, terbersit dalam benak Latif kata-kata ‘Abdi Negara’  dan ‘Abdi Masyarakat’. Ia lalu memilih ‘Abdi Madrasah’, disingkat ‘Abdima’. Hal yang lebih menguatkan dirinya untuk memilih nama tersebut lantaran adanya kesadaran betapa penting peran madrasah dalam kehidupannya.

“Sebab, dari madrasah lah saya mulai kenal huruf dan angka. Dari madrasah pula saya belajar baca, nulis, dan berhitung. Mulai MI, MTs, hingga MA. Saya merasa terlahir sebagai anak madrasah, sedikit banyak ingin bermanfaat bagi madrasah. Tentu, sebatas kapasitas dan kemampuan yang saya miliki,” tutur Latif merendah.

Singkat cerita, Nasruddin Latif secara resmi memiliki blog bernama ‘Abdi Madrasah’ yang beralamat di https://www.abdimadrasah.com/ pada 19 Desember 2012. Setelah beberapa hari melengkapi blog dengan berbagai tulisan termasuk wedget dan lain sebagainya, terpublishlah posting perdana pada 31 Desember 2012.

“Setelah saya lihat-lihat, belakangan saya tahu ternyata saya mulai bikin blog ini bertepatan dengan tanggal lahir saya. Ini benar-benar tidak sengaja dan suatu kebetulan belaka,” ujar pria kelahiran Demak, 19 Desember 1979 ini.

Pada perkembangan kemudian, MI Wegil bisa membeli modem yang terhubung ke komputer kantor. Sayangnya, sinyal modem kerap bermasalah lantaran sinyal yang timbul tenggelam. Meski demikian, ia pun tidak kehabisan akal.

“Saya pasang antena di atas genteng lantai dua madrasah untuk mencari sinyal,” kenang Latif sembari tertawa geli.

Mencari sinyal internet di Wegil bak mencari jarum di tumpukan jerami. Memang menjadi persoalan krusial. Butuh perjuangan ekstra. Ia memasang alat tersebut jika penggunaan internet sudah mendesak.

“Terus terang, saya jarang ngurusi blog madrasah di kantor sekolah ini. Karena itu tadi lagi-lagi persoalan sinyal,” tandasnya. 

Sejak memiliki blog, baik Mutiara Pendidikan maupun Abdi Madrasah, Latif mulai mem-posting tulisan pertama pada 30 Desember 2012. “Otomatis fanspage saya di Facebook saya ubah menjadi Abdi Madrasah karena menyesuaikan blog itu,” terangnya.

Ia berprinsip hanya ingin berbagi tanpa orang lain mengetahui jati dirinya. Ia berharap bisa berbagi tanpa diiringi rasa sombong. “Saya pernah dengar, kalau bisa tangan kanan memberi, tangan kiri tidak perlu tahu. Terpenting tujuan saya main blog itu menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama,” ujarnya mantap.

Latif menuturkan, dalam blognya tertulis ‘membagi informasi kepada para sahabat agar hidup ini lebih bermanfaat.’ Makanya, dalam admin itu ia tidak menuliskan database-nya. “Saya hanya menulis sebagai guru Madrasah Ibtidaiyah yang mulai mengenal huruf dan angka dari madrasah. Oleh karena itu, harus berbuat yang terbaik untuk madrasah,” tegasnya.

Ia bahkan sama sekali tidak mencantumkan nomor telepon seluler. Meski demikian, para pembaca blognya berusaha berkomunikasi melalui kolom komentar. Banyak juga yang memberi komentar baik itu positif maupun negatif.

“Saya aktifkan juga komentar via Facebook sebab para pembaca lebih mungkin punya Facebook ketimbang punya akun blog. Juga, lebih banyak yang buka Facebook sambil baca-baca informasi ketimbang buka email,” ungkapnya.

Menjadi terkenal tentu bukan tujuan, kebanggaan, apalagi keuntungan. Sejak awal, Latif tidak mempublikasikan jati dirinya. Bahkan, dalam membalas komentar pun ia lebih suka memakai akun fanspage Abdi Madrasah ketimbang memakai akun facebooknya sendiri.

“Keuntungan yang paling saya rasakan adalah kepuasan batin. Rasa senang, puas, dan suka campur jadi satu karena telah bisa berbagi. Adapun keuntungan secara materi dari iklan yang terpasang di blog, Alhamdulillah baru sekali dapat amplop dari mbah google,” ungkapnya.

Selain itu, sebagai guru ia butuh informasi terbaru. Sederhananya, Butuh Cari Dapat Bagi (BCDB). Jika ia butuh info, maka ia pun segera mencarinya. Setelah mendapatkannya, ia membagikannya kepada siapa saja. Pada saat main Facebook, ia mengaku sering kali melihat sebagian temannya membagikan berita tentang madrasah.

“Saya pun ikut nge-share. Tapi sebelumnya saya buat postingan. Penting di google itu tidak boleh copas. Kalau sekedar mengulas kan boleh. Meski ada juga yang copas, tapi saya cantumkan sumber dan link-nya. Misal, dari website Direktorat Madrasah tentang prestasi atau program apa gitu,” akunya.

Menurut Nasruddin, website Abdima banyak dikunjungi orang karena para pengunjung merasa web ini banyak memberi informasi tentang madrasah. Ia merasa web yang dikelolanya memiliki nilai plus dibanding web lainnya.

“Dibanding web Kemenag, mungkin informasi yang lebih dibutuhkan teman-teman guru lebih banyak dari web saya. Sebagai guru madrasah tentu saya lebih tahu kebutuhan teman-teman. Umpamanya, ada aplikasi tentang madrasah. Kalau dari Kanwil kan hanya petunjuk. Nah, saya membuat tutorialnya sendiri. Mungkin di situ keunggulan web saya,” ujarnya bangga.

Sejak awal, Nasruddin memang ingin fokus informasi yang dibuat tersebut khusus untuk madrasah. Jadi, jika misalnya ada info khusus untuk sekolah tidak akan ia publish. “Pokoknya saya yang terkait madrasah saja,” tegasnya.  

Latif berharap, adanya web Abdima yang ia kelola bisa mengangkat MI Wegil, khususnya daerah pedalaman Sukolilo yang kelilingi Gunung Kendeng itu. “Semoga kiprah ini membawa manfaat bagi MI di sini dan madrasah pada umumnya. Juga, ada perhatian dari pemerintah untuk daerah seperti Wegil ini,” jelasnya.

Web Abdima gontai

Sayangnya, web yang dikelolanya itu dua tahun belakangan berjalan tertatih-tatih. Ada beberapa tantangan dan aral melintang dalam menggawangi web Abdima ini.

“Hingga kini, web yang saya kelola masih aktif dan masih dapat diakses. Pengunjung juga masih lumayan. Namun, saya akui memang sudah sejak lama tidak posting tulisan terbaru,” ungkapnya.

Saat ditanya penyebab web Abdima tidak begitu aktif dan lama tidak mengunggah tulisan baru, ia menjawab ceritanya panjang. Ada hubunganya dengan maraknya YouTuber, aktivitas keseharian di dunia nyata, dan lain sebagainya.

“Blog Abdima bisa dibilang mulai gontai sejak awal 2016. Ujian berat menimpa saya hingga akhir 2016. Sempat berniat bangkit lagi, namun rasanya sulit. Akhirnya, sebelum saya benar-benar berhenti ngeblog, pada tahun 2018 saya mengadakan pelatihan membuat blog secara online via telegram dengan nama BGM (Blogger Guru Madrasah). Ini sebagai antisipasi seandainya semangat ngeblog saya punah,” curhatnya.

Untungnya, pelatihan yang ia inisiasi secara daring itu lumayan berhasil. “Alhamdulillah pelatihan melalui BGM sempat berjalan 3 angkatan, dan melahirkan beberapa blog Guru Madrasah hasil pelatihan yang kini telah exist,” ungkapnya seraya bersyukur.

Di saat aktivitasnya di dunia maya menurun, Latif kini fokus berbagi ilmu di dunia nyata. Yakni, memotivasi para guru madrasah di Kecamatan Sukolilo agar mau mengembangkan diri.

“Di antaranya melalui Kelompok Kerja Guru Madrasah Ibtidaiyah (KKGMI). Alhamdulillah 6 Kelompok Kerja pada KKGMI Sukolilo tahun ini dapat bantuan Program Peningkatan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) dengan total nilai 90 juta rupiah. Saat ini kami sedang melaksanakan kegiatan tersebut,” ungkapnya.

Saat ditanya adakah keinginan dan cita-cita untuk mengaktifkan kembali web Abdima, ia menegaskan bahwa keinginan tersebut tetap dan selalu ada. Jiwa berbaginya masih sama. Hanya saja butuh membagi waktu antara berbagi di dunia maya, dunia nyata, tugas mendidik yang harus diemban, dan tentu kepentingan keluarga.

“Tahun Pelajaran mendatang, seluruh madrasah akan mengimplememtasikan Kurikulum Merdeka. Mohon doanya mudah-mudahan dengan kurikulum baru tumbuh semangat baru lagi untuk nge-blog dan berbagi di dunia maya melalui Abdima,” harapnya.

Latif juga berharap, adanya web Abdima yang ia kelola bisa mengangkat MI Wegil, khususnya daerah pedalaman Sukolilo yang kelilingi Gunung Kendeng itu. “Semoga kiprah ini membawa manfaat bagi MI di sini dan madrasah pada umumnya. Juga, ada perhatian dari pemerintah untuk daerah seperti Wegil ini,” tandasnya.

Pada momen Hari Guru Nasional ini, ia berpesan bahwa perkembangan dan kemajuan dunia pendidikan semakin cepat. Hal itu harus segera diadaptasi oleh para guru madrasah agar mau bergerak dan mengembangkan diri demi peningkatan kompetensi.

“Meski tanpa embel-embel sebagai Guru Penggerak, saya berharap guru-guru madrasah dengan sendirinya tergerak untuk dan sama-sama menggerakkan guru madrasah lainnya untuk saling berbagi dan berkolaborasi,” pungkas Latif.

Penulis: Musthofa Asrori

Editor: Fathoni Ahmad

 

===================

Artikel ini diterbitkan dalam rangka peringatan Hari Guru bertema “Berinovasi Mendidik Generasi” oleh Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI

Al-Musthofa Publication Terobosan Nasruddin Latif Percepat Arus Informasi Madrasah Lewat Web Abdima

Source link