Maahad Al Musthofa Mobile

Jakarta, NU Online

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menegaskan bahwa tidak ada satu agama pun, tak terkecuali agama Islam yang membenarkan tindakan kekerasan, apalagi terorisme.

 

Hal tersebut disampaikan sebagai respons atas peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, Ahad (28/3) pagi.

 

Lebih lanjut, Kiai Said menceritakan kisah seorang ayah yang dilarang memaksa anaknya dengan cara kekerasan agar masuk Islam. Seorang ayah saja, jelasnya, tidak boleh melakukan kekerasan terhadap anaknya, apalagi kekerasan dilakukan kepada orang lain.

 

“Melalukan kekerasan terhadap anaknya karena gak mau masuk Islam, itu dilarang oleh Al-Qur’an,” tegas Pengasuh Pesantren Luhur Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan.

 

Menurutnya, peristiwa pengeboman ini menandakan bahwa terorisme masih eksis di Indonesia. Ia juga menyakini, pelaku pengeboman merupakan masih ada kaitannya dengan jaringan teroris Poso hingga ke Filipina Selatan.

 

“Kita (harus) selalu waspada, tapi tidak boleh takut menghadapi terorisme ini,” ucap kiai kelahiran Cirebon 67 tahun lalu itu.

 

Kiai Said mengutuk keras pelaku pengeboman tersebut. “Saya atas nama warga Nahdliyin mengutuk keras terjadinya pengeboman di Katedral Makassar,” kata Kiai Said.

 

Sementara itu, Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf berbelasungkawa dan prihatin atas peristiwa teror bom itu.

 

“Kejahatan semacam ini hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang telah membuang semua naluri kemanusiaan dari dalam dirinya,” ujar Katib Aam PBNU Yahya Cholil Staquf.  

 

Ia menyampaikan bahwa radikalisme dan terorisme adalah benalu peradaban. Aksi tersebut, lanjutnya, jelas menghisap nutrisi dari peradaban untuk membesarkan dirinya dan melemahkan peradaban itu sendiri. Bahkan aksi ini mengembangkan lingkungan industri (industrial environment) mereka sendiri. 

 

“Membangun branding mulai dari gaya hidup, fashion, ikon-ikon sosial, sampai dengan kantong-kantong komunitas dengan lapis-lapis spektrum yang pada akhirnya membentuk kelompok inti terdiri atas orang-orang yang siap menjalankan aksi teror,” ungkap Gus Yahya, sapaan akrabnya.

 

Sebagaimana diketahui, siang ini terjadi pengeboman di depan Gereja Katedral Makassar. Diketahui bahwa peristiwa tersebut merupakan aksi bom bunuh diri. Aksi pengeboman ini mengakibatkan sejumlah orang meninggal dunia dan lebih dari 10 orang mengalami luka-luka.

 

Pewarta: Syakir NF

Editor: Kendi Setiawan

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link