Maahad Al Musthofa Mobile

Jakarta, NU Online

Ramadhan menjadi salah satu momentum yang sangat baik untuk lebih meningkatkan kesehatan dan daya tahan tubuh seseorang. Sebab, ibadah puasa di bulan Ramadhan dapat menjadi ajang untuk dilakukannya detoksifikasi (pengurangan kandungan racun) di dalam tubuh.


Ketua Satuan Tugas (Satgas) NU Peduli Covid-19 Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dr Makky Zamzami berbagi tips atau cara untuk meningkatkan daya tahan tubuh saat puasa di bulan Ramadhan. Daya tahan tubuh yang baik akan mampu menghindari paparan virus Covid-19 yang sampai saat ini belum juga hilang.

 

Berikut beberapa tips meningkatkan daya tahan tubuh menurut dr Makky Zamzami yang disampaikan kepada NU Online, pada 1 Ramadhan 1442 atau bertepatan dengan Senin (12/4) malam.


Pertama, makan sahur dengan gizi seimbang.


Pada saat menjalankan ibadah makan sahur, dr Makky menganjurkan agar mengonsumsi makanan dengan porsi gizi seimbang. Di dalamnya harus terdapat protein, karbohidrat, lemak, buah, dan sayur-sayuran. Semua mesti lengkap tetapi tidak boleh berlebihan. Setelah makan sahur, upayakan agar mengonsumsi 3-4 gelas air putih.


Kedua, berbuka puasa dengan tidak berlebihan.


Menurut dr Makky, sebagian masyarakat di Indonesia kerap kali mengonsumsi terlalu banyak makanan dan minuman yang mengandung gula. Rasulullah memang menganjurkan berbuka dengan yang manis-manis yakni kurma tiga buah. Hal itu menyiratkan bahwa Nabi memberi anjuran agar berbuka dengan yang manis berasal dari buah-buahan dan tidak berlebihan.


“Tapi masyarakat kita kan biasanya borongan. Ada teh manis, kolak, gorengan, es buah. Ini satu paket semua, berlebihan. Bisa jadi itu 80 persen gula, 10 persen protein, dan 10 persen lain mungkin karbohidrat,” jelas Bendahara Lembaga Kesehatan (LK) PBNU itu.


Konsumsi makanan dan minuman yang mengandung gula dengan berlebihan itu dinilai kurang bagus. Sebab gula akan menjadi penghambat dari rasa kenyang sehingga seseorang akan terus mengonsumsi makanan, sampai terasa sangat kenyang.


“Gula itu kan menahan proses kenyang lebih lama. Tahu-tahu perut kita berasanya begah, karena terlalu banyak makan gula. Kayaknya lapar aja, nggak kenyang-kenyang gitu. Beda kalau kita makan gula sedikit, makan sedikit saja rasanya sudah cukup nih. Nah itu agak berbeda, makanya harus hati-hati,” ujarnya.


Pada makanan berat pun akan terdapat banyak kandungan gula dalam bentuk lain yang perlu diwaspadai agar jangan berlebihan dikonsumsi. Hal ini yang terkadang tidak disadari oleh sebagian besar orang karena gula yang dikonsumsi telah melarut dalam makanan yang dikonsumsi.


“Makan berat juga kita perlu hati-hati, di situ banyak gula. Gula dengan bentuk yang lain seperti nasi. Kemudian lauknya seperti opor, sambal, dan gorengan yang semuanya pakai gula. Jadi kadang kita tidak sadar karena merasa tidak makan gula, tapi gula yang dalam bentuk lain juga banyak,” terang dr Makky.


“Jadi di sinilah yang perlu kita perhatikan. Terutama yang punya diabetes atau yang ingin menjaga berat badan atau menurunkan berat badan, jangan sampai bulan puasa badan malah membengkak,” imbuhnya.


Karena itu, dianjurkan agar berbuka puasa tidak berlebihan dan harus mengetahui betul makanan yang akan dikonsumsi, termasuk soal porsi dengan tidak makan gula berlebih. Bisa pula, cukup berbuka dengan sesuai ajaran Rasulullah seperti makan buah, teh manis segelas, dan makanan berat secukupnya.


“Jadi, jangan semuanya diborong atau minimal berikan jeda. Artinya jangan dalam satu jam semuanya gula, sehingga ada waktu bagi tubuh untuk melakukan metabolisme. Berikan jeda, kadang kita makan setengah jam takjil langsung dihajar makan berat. Berikan jeda. Karena terlalu banyak gula nanti bisa menurunkan daya tahan tubuh,” tegas dr Makky.


Ketiga, tetap berolahraga.


Puasa di bulan Ramadhan jangan justru menurunkan daya tahan tubuh dengan bermalas-malasan di atas kasur. Justru, Ramadhan merupakan saat yang tepat untuk meningkatkan daya tahan tubuh karena sedang dilakukan detoksifikasi atau pengurangan kandungan racun dalam tubuh.


Karena itu, dr Makky menganjurkan agar tetap melakukan olahraga meskipun tengah menjalankan ibadah puasa. Olahraga tidak perlu dilakukan pada pagi atau siang hari karena akan mengalami dehidrasi.


“Tapi kita bisa berolahraga pada satu jam menjelang buka. Olahraga dengan lari di tempat setengah jam, itu cukup untuk membantu metabolisme kita akan lebih bagus. Bisa juga dilakukan pada malam hari dengan jalan atau lari di tempat. Itu akan cukup membantu ritme tubuh kita,” katanya.


Keempat, istirahat atau tidur yang cukup.


Cara lain untuk meningkatkan daya tahan tubuh pada saat puasa adalah dengan melakukan istirahat atau tidur yang cukup. Durasi waktu tidur orang dewasa, idealnya sekira 7-8 jam per hari. Namun ibadah puasa Ramadhan ini mungkin saja akan ada ritme tidur yang berbeda.


“Nah ini kita harus bisa mengontrol jangan sampai berlebihan tidur. Minimal 7 jam, tapi juga jangan kebanyakan begadang. Tidur siang dan malam akan berbeda secara kualitas. Satu jam tidur malam berbeda dengan 15 menit tidur di siang hari. Karena akan lebih dalam tidur di siang hari daripada tidur sejam di malam hari. Jadi kita harus pandai-pandai mengatur, karena tidur akan membantu meningkatkan daya tahan tubuh kita,” tuturnya.


Kelima, jangan memikirkan sesuatu berlebihan.


Salah satu yang akan membuat daya tahan tubuh seseorang melemah adalah terlalu banyak beban pikiran. Misalnya, memikirkan beban pekerjaan yang menumpuk atau hal lain yang dapat mengganggu pikiran selama menjalankan puasa.


Kunci agar daya tahan tubuh meningkat adalah mengurangi tingkat stres atau beban pikiran yang ada. “Jadi kita tidak perlu terlalu stres. Jangan stres-stres karena kalau tidak stres akan meningkatkan daya tahan tubuh kita. Itu akan sangat bagus sekali,” katanya.


Keenam, meningkatkan iman dengan protokol kesehatan.


Meningkatkan iman di bulan Ramadhan dengan menaikkan intensitas ibadah juga bisa membuat daya tahan tubuh dan kesehatan seseorang menjadi lebih baik. Namun apabila hendak menjalankan ibadah secara berjamaah, harus tetap waspada dengan tetap menjalankan protokol kesehatan.


“Terutama saat shalat tarawih atau shalat ied tetap menggunakan dan mematuhi protokol kesehatan, walaupun kita sudah divaksinasi,” terang dr Makky.


Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Muhammad Faizin

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link