Maahad Al Musthofa Mobile

Pemalang, NU Online

Dalam dunia internet marketing, semakin banyak mengunggah, akan semakin banyak muncul atau nangkring pada pencarian.

 

Umarul Faruq selaku Lurah Kampung Internet Marketer menyampaikan hal tersebut pada kegiatan Kampung Internet Marketer, Sabtu (17/4). Kegiatan tersebut diselenggarakan atas kerja sama antara LTM PBNU, IMNU Pemalang, Pesantren Nihadlul Qulub, dan Bank Mandiri.

 

Pernyataan tersebut juga dikuatkan oleh Busyairi, seorang aktivis IMNU Pemalang. Bahwa, untuk yang tidak berbasis iklan maka kita harus memperbanyak unggahan di internet. “Selanjutnya ya dibantu optimasi,” kata Busyairi dalam rilis yang diterima NU Online.

 

Umar menyampaikan bahwa sekarang ini mentor internet marketing sangat banyak, baik yang berbayar jutaan per hari maupun yang gratis. Tidak seperti zamannya dulu yang membuat ia susah mencari mentor dan belum tersedia banyak di internet. 

 

Umar menceritakan, ia mendapatkan 20 USD pertamanya dari pembeli Kanada, bertepatan dengan Idul Fitri 2014. Kemudian, di tahun 2017 ia sudah membangun tim dengan lima orang karyawan. “Target pasar kami adalah luar negeri, jadi kerjanya malam. Lima orang itulah ‘tuyul’ saya yang bekerja di malam hari,” imbuhnya.

 

Pada kegiatan yang berlangsung di Pesantren Nihadul Qulub, Moga, Pemalang ini, Umar menceritakan potensi market place sangat besar. Hal yang di pasar offline lokal tidak ada, di pasar online ada. “Di pasar online semua barang ada, bersumber dari offline tapi dari seluruh Indonesia bahkan dunia,” terangnya.

 

Ia meyakinkan peserta bahwa ke depan dunia offline akan tergerus di dunia online. “Dan, kita harus siap sejak dini,” ia memotivasi.

 

Umar mengingatkan bahwa istilah quantity is the king atau jumlah adalah raja, adalah sangat benar. Karenanya kaum santri harus mampu melahirkan produk yang berkualitas, ditopang oleh kerja-kerja multiplikasi atau istilah lainnya adalah spamming. Selain itu juga harus didukung oleh keahlian SEO (Search Engine Optimation).

 

“Sekarang ini algoritma Facebook berubah lagi. Untuk gambar, sekarang ini harus yang unik. Reupload tidak akan membantu banyak karena akan terdeteksi, sehingga tidak akan ndongkrak,” bebernya.

 

Selain itu, lanjut Umar, di market place harus rajin mengedit sebagai tanda ada pergerakan. “Bahwa toko kita hidup,” tegasnya.

 

Lutfi, seorang aktivis IMNU Pemalang, yang pernah berjualan ikan keliling di sekolah-sekolah, menyampaikan bahwa dunia online bukan abu-abu, tapi dunia riil. Ia mengaku belajar secara otodidak.

 

“Hasil kerja pertama saya adalah mengembalikan utang puluhan juta pada empat bulan kerja pertama saya dengan sistem affiliate marketing. Apa pun, ini perlu ketelatenan,” tuturnya.

 

Aina, seorang ibu rumah tangga, salah seorang penggerak IMNU Pemalang menceritakan kisahnya jualan online yang pernah kena banned oleh salah satu platform olshop. Hal itu menurutnya karena ia menggunakan akun kloning.

 

Ia menyarankan untuk bekerja secara organik. Upload-nya secara manual. “Saya sehari hanya kuat upload sepuluh produk. Berbeda yang model spammer yang bisa upload mungkin ratusan produk. Namun, semua mengacu fokus masing-masing. Menurut saya fokus dan istikomah inilah yang paling penting bagi seorang internet marketer,” tegasnya.

 

Wakil Sekretaris LTM PBNU pada pembukaan mengatakan, program ini diselenggarakan dikemas dalam bentuk pasaran (ngaji puasa) selama 13 hari. Para peserta akan dikarantina sejak hari ini sampai 30 April mendatang.  

 

“Kampung Internet Marketer kali ini hanya menampung 20 peserta, dengan demikian dengan sangat terpaksa kami melakukan seleksi ketat. Peserta yang lulus pada tahap ini berasal dari Kabupaten Pemalang, Kabupaten Tegal, dan Kota Tangerang Selatan,” terangnya.

 

Pewarta: Kendi Setiawan

Edtor: Musthofa Asrori

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link