Maahad Al Musthofa Mobile

Ada seorang yang tekun beribadah. Dia salah satu umat Bani Israil. Ibadahnya tanpa cela. Tujuh puluh tahun lamanya.

Allah ingin menunjukkannya kepada malaikat. Ia mengutus beberapa dari mereka untuk datang menemuinya. Bukan untuk menunjukkan keistimewaan ibadahnya. Atau menunjukkan betapa mulianya si hamba di sisiNya.

Allah ingin para malaikat itu membawa kabar penting bagi si hamba. Memberi tahu apa yang dikehendaki Allah akan ibadah-ibadahnya.

“Wahai hamba Allah. Ketahuilah. Sungguh, ibadahmu yang banyak itu tak membuatmu pantas masuk surga.”

Tentu mengherankan. Tujuh puluh tahun beribadah ternyata tak menjamin dia mendapat balasan yang mulia. Bukankah sudah selayaknya, berbuat kebaikan mendapat kebaikan pula? Tetapi sang hamba nyatanya tenang-tenang saja. “Saya ini diciptakan Allah untuk beribadah. MenyembahNya. Ya saya beribadah sebisa-bisa saya.”

Malaikat lalu kembali. Mereka menghadap Allah. Melaporkan peristiwa musykil itu.

“Wahai Allah, tuhan kami. Engkau tentu lebih tahu apa yang akan kami katakan.”

Tentu saja Allah tahu. Tahu apa yang telah, sedang, dan akan terjadi.

“Meskipun begitu, ia tetap tidak berhenti beribadah. Aku, dengan kemuliaanKu, dengan kebaikan dan pengampunanKu, tak akan Aku acuh padaNya. Maka saksikanlah wahai malaikatKu, Aku telah mengampuniNya.”

Di tempat dan waktu yang berlainan, ada kisah yang mengemuka. Mirip, namun lebih ekstrim. Di kota Makkah, terdapat seseorang yang tekun beribadah (‘abid). Seorang lelaki mendatanginya, “Wahai tuan. Sungguh aku telah melihat lauhil mahfudz. Di sana namamu tertulis sebagai orang yang celaka.”

Lauh al-mahfudz adalah tempat di mana takdir setiap makhluk digoreskan‑dan dipastikan: celaka, atau beruntungkah ia.

Sang ‘abid tanpa diduga menyela, “Apa yang kau lihat itu telah aku ketahui empat puluh tahun lalu. Tapi ketahuilah. Allah menciptakan kita sebagai hambaNya. Maka apa yang semestinya kita lakukan selain menghamba padaNya?”

Ayyuhal Walad.

Baca juga: Keutamaan Ibadah di Malam Hari.

Simak juga: Prinsip dalam Beramal | KH. M. Anwar Manshur

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link