Maahad Al Musthofa Mobile

Pandemi covid-19, berdampak penerapan lockdown dan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) serta larangan mudik hari raya yang ditetapkan pemerintah. Meski pembatasan ruang gerak telah sesuai protokol  kesehatan, namun tetap terasa berat dan ganjil tersekat, jauh dari kampung halaman, keluarga, tetangga, teman, dan saudara seagama. Banyak batin orang berkecamuk menyoal penghidupan dirinya dan orang yang dinafkahi karena mereka tak lagi dapat bekerja. Bagaimana kita menyikapinya?

            Untuk keadaan berjarak ini, saling mencintai karena Allah Swt. adalah roh dan penguat ukhuwah, Syekh Muhammad Mutawali as-Syarawi menuturkan, dekat atau jauh bukan tentang jarak, tempat, atau pertemuan. Namun dekat atau jauh tergantung perasaan hati. (As-Sya’rawi, tt)

            Senada, Ibnu Asakir meriwayatkan sabda Rasulullah Saw. “Jika dua orang saling mencintai karena Allah Swt. dan salah satu dari mereka berdua di timur, sementara yang lainnya bertempat di barat, niscaya kelak Allah Swt. mempertemukan mereka berdua di hari kiamat.” (Ibnu Katsir, tt)

            Ukhuwah berasal dari akar kata akhun, secara etimologi bermakna tholab (pencarian). Menurut Raghib al-Isfihani bermakna ikatan (hubungan) dengan orang lain dari segi kelahiran seayah seibu, atau salah satunya, bisa juga dari tunggal susuan (radha’).

            Kata akhun dialegorikan (isti’arah) ke bentuk ikatan dengan orang lain, menilik aspek suku bangsa (qabilah), agama, pekerjaan, pergaulan, cinta kasih dan lain-lain, yang masih melingkupi kecocokan atau keselarasaan. (Al-Ashfihani, 1970)

            Persaudaraan (Ukhuwah), menurut al-Ghozali, layaknya ikatan pernikahan. Artinya Ukhuwahmengandung tugas dan tangggung jawab yang wajib ditunaikan kepada saudara. Kewajiban itu terangkum dalam delapan poin, yakni segi harta, perlakuan, lisan, hati memaafkan, mendoakan, tulus, integritas, meringankan, tidak menyusahkan, dan tidak penuh tuntutan. (Al-Ghozali, 2015)

            Syekh Athiyah bin Muhammad Salim mengatakan: ukhuwah islamiyah lebih kuat dari pada ikatan ukhuwah secara nasab dan kekerabatan. Dan kita dapat melihat bahwa berbagai ras, suku, bangsa yang berbeda-beda dan saling berjauhan–bersaudara di bawah bayangan pohon besar Islam. (Athiyah, tt)

            Muhammad Amin al-Alawi as-Syafi’i mengungkapkan, ukhuwah berlandaskan Islam lebih kuat dibandingkan ukhuwah nasab ketika tanpa ruh ukhuwah islamiyah. Ihwal nyata saat kematian menjemput, saudara non Muslim atau dua anak bersaudara hasil zina tidak dapat saling diwarisi dan mewarisi  harta. Hukum ini muncul berdasarkan bahwa tidak ada legimitasi penyatu yang salah (al-jami’ al-fasid) dan tentu tak berefek pada subtansi ukhuwah sesungguhnya. Karena syariat Islam menjadi pokok dan pondasi dalam ukhuwah. (Al-Alawy As-Syafi’i, tt)

            Hal yang seirama disingkap oleh firman-Nya;

الأَخِلاَّء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ الْمُتَّقِينَ

Al-akhilaa pada hari itu sebagiannya menjadi musuh sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Az-Zukhruf: 67).

            Tafsir kata al-akhila adalah al-ashdiqa wa al-ahbab yang berarti teman akrab dan kekasih. Ayat yang menjelaskan pertemanan dan cinta kasih yang merupakan pilar ukhuwah, memberi rambu-rambu, bahwa ukhuwah harus berlandaskan takwa dan iman kepada Allah Swt. (As-Syirbini, tt) Para ulama menyebutnya sebagai Ukhuwah fi Ad-ddin.

            Berangkat dari perspektif ini, konsep ukhuwah yang diajarkan agama atau berdasarkan titah Allah Swt. dirumuskan oleh Kyai Ahmad Shidiq menjadi tiga konsep, yaitu ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathoniyah, dan ukhuwah basyariah. (Rasyid, 2018)

            Implementasi Ukhuwah Hadapi Pandemi

            Selayaknya, kita kembali mempelajari tentang ukhuwah di masa pandemi ini dalam sabda multi interfensi dari Rasulullah Saw. empat belas abad lalu berupa:

 إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ ، فَلا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا ، فَلا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ

“Jika kalian mendengar wabah melanda suatu wilayah, maka jangan kalian memasukinya. Dan jika wabah itu datang dan kalian berada di wilayah terdampak, maka janganlah kalian keluar karena lari darinya.” (HR. Bukhori)

            Menurut al-Kholil, Thoun adalah wabah penyakit. Sedangkan interfensi ulama saling bertentangan mengenai illat (alasan) larangan keluar dan masuk wilayah terdampak wabah. Namun terdapat dua pendapat menarik.

            Pendapat pertama, menurut Abu Thoyib Syamsul Haq al-Abidi, larangan memasuki wilayah terdampak wabah bersifat haram karena menjebloskan diri sendiri pada keadaan berbahaya. Sebagaimana dilarang dalam ayat al-Baqarah ayat 195. Interfensi ini mengajarkan lockdown dan segala pencegahan virus agar tidak menyebar. (Al-Abidi, tt)

            Pendapat kedua, menurut al-Ghozali, larangan keluar dari wilayah wabah dilatar belakangi solidaritas sosial. Jika orang-orang yang kuat, mampu dan sehat meninggalkan zona wabah, maka akan menghancurkan perasaan hati mereka yang tidak mampu keluar dari zona tersebut, serta orang-orang yang sakit tidak mendapatkan perawatan medis dan kebutuhan primer mereka, juga korban jiwa pada akhirnya tidak dirawat (tajhiz). (Bersambung)

Penulis: Arif Fahrijal

Baca juga: Harga Sebuah rasa Aman.

Simak juga: Prinsip dalam Beramal | KH. M. Anwar Manshur

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link