Maahad Al Musthofa Mobile

Pati, NU Online

Pengasuh Ngaji Suluk Maleman, Habib Anis Sholeh Baasyin menjelaskan tentang penyakit hati yang dihasilkan oleh virus seperti kebencian, iri, serta fenomena mencaci maki terhadap manusia. 


“Saat ini ancaman virus banyak membuat orang takut dan panik. Hal seperti itu, karena masyarakat takut pada kesehatan fisiknya. Padahal ada virus yang serupa tapi jauh lebih berbahaya yakni virus yang masuk ke hati dan akal pikiran. Anehnya, meski terserang, manusia tetap merasa baik-baik saja,” tegas Habib Anis dalam kegiatan Ngaji Suluk Maleman pada Sabtu (20/3) lalu.


Pembahasan yang diangkat adalah pembahasan protokol kesehatan untuk bagaimana manusia menutup mulutnya, menjaga jarak, maupun menghindari kerumunan. Singkatnya, Habib Anis menjelaskan bahwa kerumunan yang dimaksud adalah kabar atau suara yang saat ini tidak karuan.


Lebih lanjut, Habib Anis menjelaskan menutup mulut diartikan untuk lebih berhati-hati pada lisannya. Apabila lisan yang diucapkan manusia khawatir perkataannya bisa menjadi virus kebencian.


Sementara dengan menjaga jarak atau tidak terlalu fanatik pada satu kelompok manapun diharapkan agar bisa mengetahui mana kebenaran yang sejati. Bukan benar hanya karena golongannya.


Selain itu, pembatasan media sosial diharapkan agar tepat penggunaannya. Hal ini dijelaskan pula oleh Habib Anis yakni media sosial sendiri telah terjadi perubahan fungsi. Dari awalnya sebagai penghubung komunikasi, sekarang telah berganti.


Untuk itu, ada dua cara yang bisa dilakukan agar tidak terseret dalam keruhnya peradaban saat ini yakni dengan tidak merasa benar sendiri atau tidak menghakimi hanya berdasarkan pengetahuan pribadi saja


“Kita harus mencoba belajar dari orang lain. Jadi barulah setelah mendapat banyak pertimbangan bisa sedikit meraba benar atau salahnya,” ucap Habib Anis.


Menurut dia, manusia harus membersihkan dan menyucikan hati. Apabila itu telah dilaksanakan, maka kejernihan hati bisa menjadi cerminan dalam melihat kenyataan yang ada.


Habib Anis menjelaskan setiap insan manusia harus bisa menjaga agar virus jiwa itu tidak masuk karena bisa merusak rohani.


“Seperti komputer saat kemasukan satu virus saja bisa rusak dan data bisa kocar-kacir karena pandemi mengacaukan peradaban manusia, sementara virus kebencian mengacaukan peradaban rohani,” tandasnya.


Pewarta: Taufan Bukhari

Editor: Fathoni Ahmad

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link