Maahad Al Musthofa Mobile

Jakarta, NU Online

Muhammad Abdullah Syukri (Abe), telah terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) masa khidmat 2021-2023 dalam Kongres XX PMII di Balikpapan, Kalimantan Timur. Berbagai visi dan program telah dicanangkan agar organisasi kemahasiswaan Islam terbesar di Indonesia ini menjadi lebih baik di masa kepemimpinannya. 

 

Abe melihat, basis kaderisasi PMII berada di perguruan tinggi. Baik universitas, institut, maupun sekolah tinggi. Ke depan, ia ingin PMII mampu lebih baik dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Inilah yang menjadi kata kunci Abe untuk mengembangkan PMII ke depan. 

 

“Saya akan menyusun draf untuk membuat tawaran paradigma baru di PMII. Selama ini, paradigma di PMII yang masih dipakai adalah kritis dan transformatif. Intinya kader harus kritis terhadap satu hal, dan membuat perubahan-perubahan yang ada,” katanya dalam tayangan galawicara Peci dan Kopi di TV NU, pada 9 Maret 2020 lalu. 

 

Di era disrupsi atau revolusi industri 4.0 seperti sekarang ini, semua orang dituntut untuk berkarya dan berproduksi lebih banyak. Masing-masing individu mesti punya karya yang berbeda dengan yang lain.

 

“Karena itu saya izin menambahkan satu kata dalam paradigma PMII yaitu kritis, transformatif, dan produktif. Orientasi PMII ke depan, baik dalam hal kaderisasi maupun gerakan, semuanya harus berbasis karya. Semua yang dilakukan harus ada karya dan produknya. Harus ada output yang jelas,” terang kader PMII yang memulai perjalanannya sejak kuliah di Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur ini. 

 

Selama ini, menurut Abe, para kader PMII kerap berdiskusi selama tiga hingga empat jam tapi tidak menghasilkan output apa pun. Banyak pula yang membuat banyak kegiatan, tetapi tidak ada hal yang berkelanjutan dan bisa ditiru oleh kader yang lain.

 

Namun di beberapa wilayah, terdapat cabang PMII yang dalam berkegiatan sudah berorientasi pada karya dan produk. Salah satu contoh, kata Abe, ada salah satu cabang di Jawa Timur yang memiliki karya di bidang entrepreneur atau kewirausahaan. 

 

“Mereka menggunakaan WhatsApp akun bisnis, menyediakan jasa banyak hal, dan desain. Itu laku untuk dijual dan bisa menghidupi komisariat. Itu adalah contoh produk di bidang kewirausahaan. Tapi belum masif, mungkin karena belum dipanggungkan atau punya legitimasi ilmiah sehingga bisa ditiru untuk komisariat yang lain,” katanya. 

 

Hal lain yang disorot Abe adalah kader PMII yang fokus di bidang kebudayaan tapi belum terlihat karya-karyanya. Ia curiga, selama ini kader PMII hanya suka berwacana saja dengan berdiskusi semalaman membahas konsep kebudayaan tapi tanpa ada produk yang dihasilkan. 

 

“Sahabat-sahabat yang suka berdiskusi semalaman, mana bukunya, mana artikelnya, mana jurnalnya, mana konten di media sosialnya? Saya kira harus ada orientasi karya ke depan,” tegas alumnus Universitas Duisburg Essen Jerman ini. 

 

Memastikan program berjalan

Meskipun demikian, Abe mengakui bahwa kebutuhan kader di setiap daerah berbeda-beda. Karena itu, ia akan merancang sebuah klasterisasi. Sebab antara cabang di kota-kota besar dengan di daerah itu berbeda karakteristiknya. 

 

Untuk mempertemukan benang merah persoalan itu, diperlukan ilmu pengetahuan. Inilah yang dapat menyatukan kader-kader PMII di seluruh Indonesia, karena memiliki basis di perguruan tinggi. Operasionalisasinya, Abe akan melakukan stimulus kepada kader PMII agar berkarya. 

 

“Salah satu program unggulan saya adalah membuat konferensi ilmiah yang bisa memanggungkan karya-karya kader PMII dan punya legitimasi ilmiah bahwa ini adalah sebuah karya. Produk ini nantinya juga bisa dikembangkan di tempat lain,” kata Pengasuh Pondok Asy-Syakiroh Buntet Pesantren Cirebon, Jawa Barat ini.

 

Ia mencontoh Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas). Jadi, untuk bisa ikut memamerkan karya di konferensi ilmiah itu, kader PMII diminta untuk membuat proposal atau tulisan perihal apa saja yang sudah dilakukan selama ini. Lalu dikirim dan masuk ke tahap seleksi untuk selanjutnya dipresentasikan dalam konferensi tersebut. 

 

Di konferensi ilmiah itu, terdapat banyak klasterisasi isu. Jika ada kader yang fokus di bidang pertanian seperti kopi yang berkhasiat maka bisa dipamerkan dalam konferensi ilmiah itu. Begitu pula bagi kader PMII yang memiliki karya di bidang Informasi dan Teknologi (IT) 

 

“Sahabat-sahabat yang punya karya di bidang IT, nanti kita ada konferensi yang klasterisasi dengan tema IT. Mereka memamerkan aplikasi atau robot yang menjadi karya mereka. Ditulis secukupnya saja untuk dipaparkan. Bisa dengan poster,” terang Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Buntet Pesantren Cirebon ini. 

 

Ia berharap kader PMII memiliki banyak produk dari berbagai latar belakang ilmu pengetahuan yang dikuasai. Hal tersebut yang bisa menjadikan para kader percaya diri dan tidak takut untuk melangkah lebih maju. 

 

“Kalau kita takut untuk melangkah atau jangan-jangan tidak bisa, kapan kita bisa maju? Kita perlu lompatan-lompatan besar. Secara substantif, kader PMII ini luar biasa. Saya akan membuat konferensi ilmiah ini sebagai salah satu wadah untuk memamerkan karya-karya Sahabat-sahabat,” tutur Abe.

 

Tak hanya itu, ia juga mengatakan akan berkomitmen untuk membuat struktur organisasi yang bisa bekerja secara efisien. Bahkan akan dibuat pula lembaga di luar struktur formal dalam rangka mewadahi keterampilan atau minat yang dimiliki masing-masing kader. 

 

Lalu kader yang memiliki berbagai minat dan keterampilan tertentu akan didata sekaligus diidentifikasi melalui program e-PMII. Selanjutnya, praktik atau karya terbaik (best practice) yang dilakukan di berbagai sektor juga tak luput untuk dicatat. Terakhir, karya-karya yang dimiliki kader PMII itu akan dikumpulkan untuk dipamerkan dalam ajang khusus yang disebut sebagai konferensi ilmiah.

 

Pewarta: Aru Lego Triono

Editor: Kendi Setiawan

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link