Maahad Al Musthofa Mobile

Jakarta, NU Online

Perkembangan halal tourism (wisata halal) dan ekonomi syariah penting dipersiapkan oleh diaspora santri yang saat ini mengabdi di berbagai negara. Para diaspora santri dengan pelbagai latar belakang keilmuan, harus siap mengembangkan bisnis dan teknologi untuk kemaslahatan bersama dan untuk kemajuan bangsa.

 

Demikian pernyataan Sitta Rosdaniyah, praktisi bisnis dan teknologi kepada NU Online, Jumat (15/4).

 

Sitta Rosdaniyah merupakan Sekretaris PCINU Australia-New Zealand pada tahun 2007-2010 lalu. Ia saat ini mengabdi di Kementerian BUMN, khususnya untuk pengembangan bisnis dan teknologi. 

 

Bagi Sitta, peran diaspora santri sangat penting untuk menyongsong Satu Abad Nahdlatul Ulama, serta menyiapkan peta jalan NU pada abad kedua. Sitta juga mengajak agar para diaspora santri, kelompok santri yang saat ini sedang belajar dan bekerja di berbagai negara, dapat memberi kontribusi dan berkolaborasi bersama.

 

“Saya keliling dunia sering tanya apakah ada PCINU-kah di sana, maka kita bisa ngopi-ngopi. Maka, penting kiranya kita spread out nilai-nilai Islam kita menjadi nilai perdamaian, karena itu memang menjadi dasar nilai perdamaian universal. Kemudian, di sektor ekonomi, marilah kita menjadi duta di bidang ekonomi. Indonesia ini market besar. Maka, mari para diaspora santri, kita juga menjadi duta di bidang ini,” ungkap Sitta yang mendapatkan PhD dari Australian National University (ANU) bidang economic public policy. 

 

Sitta mengajak para santri dan generasi milenial untuk memajukan industri halal dan menguatkan perkembangan ekonomi syariah di Indonesia. “Mari kita memajukan industri halal dan keuangan Syariah. Teman-teman diaspora bisa menjadi ujung tombak untuk menguatkan kampanye terkait itu, sekaligus juga memberi influence bagi publik yang luas,” jelasnya.

 

Selain itu, Sitta Rosdaniah juga menyoroti banyaknya generasi santri yang bergerak di bidang sains, ekonomi, dan teknologi. “Ini yang sangat menarik, banyak teman-teman PCINU sekarang sudah masuk di arena ekonomi dan teknologi. Kemudian, setelah di Indonesia banyak yang mengelola halal center ataupun teknologi center, ini kemudian nanti bisa berkolaborasi,” terang Sitta.

 

Di sisi lain, Sitta menegaskan, diaspora santri dapat menginisiasi industri kreatif Indonesia. “Misalnya, kita sering sekali pergi untuk melakukan halal tourism. Nah, terakhir saya mengikuti halal tourism, untuk napak tilas Abdurrahman—saya pengen mengkaji Gus Dur, jadi ingin mempelajari Abdurrahman itu siapa. Jadi, saya mengikuti halal tourism di Andalusia, di Spanyol, sepak terjang Abdurrahman untuk mengibarkan Islam di Eropa. Itu hal yang luar biasa, dikemas dengan sangat bagus. Nah, itu bisa dijual 40 juta rupiah per orang,” ungkapnya.

 

“Kenapa kita tidak bisa membuat story telling seperti itu, terkait dengan nilai-nilai Islam di Indonesia, misalnya Walisongo, kemudian menjadi story yang ingin dipelajari orang-orang di seluruh dunia. Kita perlu berkolaborasi untuk mewujudkan mimpi-mimpi dan peluang yang ada. Kita sekarang berada di wilayah digital population,” paparnya, dalam diskusi Membangun Narasi Publik, Menguatkan Diplomasi Perdamaian beberapa waktu lalu.

 

Untuk menguatkan peran diaspora santri, Sitta menjelaskan pentingnya jaringan dan data yang komprehensif. “Kita membutuhkan digital database dan networking, sehingga dari situ kita bisa berkolaborasi secara lebih rapi. Nah, kalau sekarang kita sebagai profesional aktif di LinkedIn, nah ini para santri perlu membuat jaringan yang di situ kita bisa berkomunikasi secara profesional maupun secara informal,” ajaknya. 

 

Lebih dari itu, Sitta menjelaskan bahwa saat ini penting melakukan strategi personal branding bagi para ahli dari diaspora santri. “Hal penting, kita juga penting untuk membranding ekspert di berbagai bidang dengan identitas Indonesia, Islam damai dan Ahlussunnah wal Jamaah. Jadi, branding di setiap bidang, ada ahli ekonomi, ahli teknologi, ahli medical science. Nah, itu akan menjadi legacy bagi kita semua,” terang Sitta. 

 

Saat ini, diaspora santri telah menyebar di lebih dari 40 negara, dengan keahlian yang beragam. Dari teknologi, sains, medis, bisnis hingga keuangan internasional.

 

Editor: Kendi Setiawan

Maahad Al Musthofa Mobile

Source link